Getaran kuat gempa bumi dengan magnitudo 7,6 yang berpusat di perairan Bitung, Sulawesi Utara, pada Kamis pagi (18/1/2024) pukul 06.48 WITA, mengejutkan warga di berbagai wilayah Provinsi Gorontalo. Guncangan yang berlangsung selama kurang lebih satu menit itu memicu kepanikan dan memaksa warga untuk mengungsi sementara ke luar rumah. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mengeluarkan peringatan dini tsunami untuk wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara, sebelum kemudian dicabut.
Kepanikan Warga Gorontalo
Kesaksian warga di berbagai daerah Gorontalo menggambarkan betapa kuatnya guncangan yang dirasakan. Adhan, warga Limboto, Kabupaten Gorontalo, menuturkan bahwa getaran terasa seperti ayunan yang cukup keras hingga menimbulkan kepanikan. Warga di sekitar kompleks perumahannya berhamburan keluar rumah untuk mencari tempat yang lebih aman. Ia menambahkan, gempa berlangsung cukup lama sehingga tiang listrik dan mobil yang terparkir pun ikut bergoyang.
Kepanikan serupa juga dialami Aldianto, warga Tapa, Kabupaten Bone Bolango. Ia mengaku kaget dengan gempa yang sangat terasa. Reaksi pertamanya adalah menghubungi istri dan keluarga di Bitung untuk memastikan keselamatan mereka. Aldianto juga aktif mencari informasi terkini mengenai gempa melalui berbagai sumber daring.
Informasi dari BMKG
Kepala Stasiun Geofisika Gorontalo, Andri Wijaya Bidang, menjelaskan bahwa data awal menunjukkan gempa berkekuatan magnitudo 7,3 terjadi pada pukul 05:48:14 WIB dengan lokasi di 1.21 LU, 126.25 BT, atau sekitar 127 kilometer tenggara Bitung, Sulawesi Utara, pada kedalaman 18 kilometer. Setelah pemutakhiran data, magnitudo gempa dikoreksi menjadi 7,6.
Andri Wijaya Bidang juga menegaskan bahwa meskipun peringatan dini tsunami telah dikeluarkan untuk Maluku Utara dan Sulawesi Utara, hasil pemodelan menunjukkan wilayah Gorontalo tidak terdampak tsunami akibat gempa tersebut. Meskipun demikian, ia mengimbau warga untuk tetap waspada dan terus memantau informasi resmi dari BMKG.
Peringatan Dini Tsunami dan Pencabutan
BMKG mengeluarkan peringatan dini tsunami segera setelah gempa terjadi, mengindikasikan potensi gelombang tsunami di wilayah pesisir Maluku Utara dan Sulawesi Utara. Peringatan ini memicu evakuasi di beberapa wilayah pesisir sebagai langkah antisipasi.
Namun, beberapa jam kemudian, BMKG mencabut peringatan dini tsunami tersebut. Keputusan ini diambil setelah dilakukan pemantauan dan analisis lebih lanjut terhadap data ketinggian muka air laut di berbagai stasiun pengamatan. Berdasarkan data tersebut, tidak terdeteksi adanya anomali signifikan yang mengindikasikan terjadinya tsunami.
Kondisi Geologis dan Kerentanan Gempa di Sulawesi
Indonesia terletak di wilayah yang sangat rentan terhadap gempa bumi karena berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo-Australia, dan Lempeng Pasifik. Pergerakan dan interaksi antar lempeng ini menyebabkan terjadinya akumulasi energi yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Wilayah Sulawesi, termasuk Sulawesi Utara dan Gorontalo, secara khusus memiliki kompleksitas geologis yang tinggi karena dilintasi oleh berbagai sesar aktif. Sesar-sesar ini merupakan patahan atau retakan di kerak bumi yang memungkinkan pergerakan relatif antar blok batuan. Aktivitas sesar-sesar inilah yang menjadi penyebab utama terjadinya gempa bumi di wilayah tersebut.
Imbauan dan Langkah Mitigasi
Meskipun peringatan dini tsunami telah dicabut, gempa bumi dengan magnitudo yang cukup besar seperti ini tetap menimbulkan potensi risiko kerusakan dan korban jiwa. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk tetap waspada dan mengambil langkah-langkah mitigasi yang diperlukan.
Beberapa langkah mitigasi yang dapat dilakukan antara lain:
- Mengenali tanda-tanda gempa bumi dan tsunami.
- Mengetahui jalur evakuasi dan tempat pengungsian yang aman.
- Menyiapkan tas siaga bencana yang berisi perlengkapan penting seperti air minum, makanan ringan, obat-obatan, dan dokumen penting.
- Memastikan bangunan tempat tinggal atau tempat kerja memenuhi standar keamanan gempa bumi.
- Mengikuti informasi dan arahan dari pihak berwenang.
Pemerintah daerah juga diharapkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan kapasitas dalam menghadapi bencana gempa bumi, termasuk melakukan sosialisasi dan pelatihan kepada masyarakat, serta memperkuat infrastruktur dan sistem peringatan dini. Kejadian gempa ini menjadi pengingat akan pentingnya mitigasi bencana untuk mengurangi risiko dan melindungi masyarakat dari dampak buruk gempa bumi.




